Komunitas belajar dibangun secara sistematis, gradual, dan fungsional agar mampu melahirkan komunitas belajar profesional, yaitu komunitas belajar yang mampu menjadikan belajar sebagai denyut nadi semua anggotanya serta menggerakkan perubahan besar dalam cara berpikir bersikap, bergaul, dan melihat dunia dengan cita-cita yang tinggi. Komunitas belajar profesional ini akan mendorong pendidik untuk aktif mengembangkan ilmu. (Jamal Ma`mur Asmani, 2014:82)
Pendidik dengan sematan nama guru, ustaz, dosen, profesor, kyai, dan lainnya adalah orang terpilih dari banyak orang yang ada di muka bumi. Pilihan bukan jatuh dari langit saja, tetapi mereka yang mendapat predikat setelah menempuh berbagai hal apakah itu formal, nonformal bahkan informal. Dan yang paling utama mereka tetap menjaga dan mempertahankan diri dari tuntutan seorang pendidik untuk diri dan lingkungannya.
Menjadi pendidik tidak hanya diperoleh dari masa lalu dan pengakuan masa kini, tetapi bagaimana dia mempertahankan dan meneruskan tradisi pendidik. Tradisi dimaksud adalah tetap menjaga keilmuan, tetap belajar dan tetap dalam menjadikan lingkungan mendapat keberkahan dari dirinya. Dalam bahasa kekinian ini yang disebut dengan pendidik yang memiliki komunitas pembelajar berkelanjutan.
Berbeda dari masyarakat lainnya jelaslah bahwa untuk menjadi pendidik harus terus mengembangkan ilmu, boleh jadi untuk sekolah formal ia tidak berhenti hanya tamat sekolah lanjutan, tetapi menempuh program sarjana, magister bahkan sampai doktor.
Inilah yang perlu dilengkapi dengan belajar nonformal di mana pendidik terus belajar walaupun sudah menjadi profesor sekalipun. Caranya dengan bergabung dalam komunitas keilmuan, organisasi profesi, konsorsium, atau penggiat sosial dan lain sebagainya.
Betapa indahnya bila pendidik terus terjaga dalam hal menjadi pembelajar sepanjang hayat, tentu pendidik yang mencapai tingkat profesional yang memiliki cita-cita tinggi akan lahir dari:
Pertama, cara berpikir. Berpikir terus belajar adalah hal utama, tidak ada berhenti sampai mati. Belajar kepada siapa saja, kapan saja bahkan tentang apa saja. Komunitas atau kelompok para penggiat belajar dapat diikuti, atau yang paling utama dia yang menginisiasi atau menggagas untuk dikembangkan.
Kedua, cara bersikap. Semua hal yang ada di dunia ini harus direspon tentu menggunakan ilmu pengetahuan, pengalaman dan moral. Cara bersikap ini akan tumbuh dan berkembang sesuai dengan kebaikan yang dilakukan selama ini, dan menjadi point apakah seorang tetap belajar atau tidak, apakah banyak bergaul atau justru tidak punya jaringan.
Ketiga, cara bergaul. Pergaulan tidak mesti jumpa pada waktu tertentu, tetapi lewat media yang boleh jadi dapat melintasi kota, bahkan waktu sampai antar profesi. Pergaulan itu penting, bahkan lebih utama dari sekedar membaca buku di rumah saja.
Keempat, cara melihat dunia. Dunia ini adalah hamparan yang penuh tanda tanya, maka cari jawabannya lewat meneliti, dunia ini penuh dengan permasalahan untuk diperebutkan, maka jadilah orang yang adil untuk mencarikan solusi, dan dunia ini perlu dijaga untuk diwariskan, maka lakukan praktik baik dari diri sendiri lewat pendidik dan pembelajar sejati.
Menjadi pendidik itu memiliki nilai yang berbeda dari lainnya bila dia mampu membangun komunitas. Caranya sederhana yakni lakukan secara sistematis dengan merencanakan untuk berkomunitas yang produktif, kemudian lakukan secara rutin dan terjadwal ini akan memberi kekuatan dalam hal regulatif dan produktif.
Hal lain yang perlu lakukan oleh pendidik adalah sampaikan secara masif atau gradual sehingga komunitas belajar dapat memiliki fungsi dan memperkuat institusi.
Memang hebat bila ada pendidik atau profesor baru, memiliki ide yang brilian bahkan update sesuai dengan isu yang terjadi. Namun itu bukanlah pilihan bijak, yang utama adalah dia berbuat untuk sebuah sistem yang ada di dunianya, maka komunitas seperti forum, dewan atau penggiat perlu mendapat dukungan formal.
Dari sana apa yang kita bicarakan bukan sekadar rangkaian kata-kata tetapi rekomendasi yang berdaya untuk merubah peradaban lewat tulisan atau bicara.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















