Bermain selain berfungsi penting bagi perkembangan pribadi juga memilik fungsi sosial dan emosional. Melalui bermain, anak merasakan berbagai pengalaman emosi; senang; sedih; bergairah; kecewa; bangga; marah dan sebagainya. Melalui bermain pula anak memahami kaitan antara dirinya dan lingkungan sosialnya, belajar bergaul dan memahami aturan ataupun tata cara pergaulan. Selain itu kegiatan bermain berkaitan erat dengan perkembangan kognitif anak. (Mayke S Tedjasaputra, 2001:20).
Bila anak diam di rumah itu adalah pilihan dari dirinya, bila anak bermain keluar rumah itu juga pilihan, yang pasti pilihan selalu datang dengan membawa banyak konsekuensi. Diam di rumah dan keluar keduanya memiliki risiko khususnya pada perkembangan kepribadian anak, dan ini jarang disadari oleh para orang tua.
Mengapa harus memilih antara di rumah dan keluar rumah justru di sinilah letak peran orang tua memberikan bimbingan, pengarahan atau kontrol terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Salah satu pilihan keluar rumah adalah untuk berjumpa orang lain, aktivitas yang tampak dengan cara bermain. Bermain selain berfungsi penting bagi perkembangan pribadi juga memilik fungsi sosial dan emosional.
Memberi kesempatan untuk bermain itu berarti menempatkan posisi anak untuk tumbuh dan berkembang khususnya dalam bersosial maupun mengasah emosional.
Mengapa mesti bermain, karena hal ini sesuai dengan perkembangan jiwa anak. Melalui bermain, anak merasakan berbagai pengalaman emosi; senang; sedih; bergairah; kecewa; bangga; marah dan sebagainya. Semua perasaan akan muncul apakah akibat respon dari kejadian yang dialami, atau sikap dari dalam dirinya sendiri.
Tetapi bermain tetap menjadi pilihan karena berulang yang kadang tidak konsisten, seperti marah hari ini belum tentu marah esok hari, senang di pagi hari bisa saja sedih menjelang siangnya, dan seterusnya. Bermain itu boleh jadi di dalam rumah, boleh juga di luar rumah, namun yang paling utama adalah karena melakukan interaksi dengan anak lain.
Melalui bermain pula anak memahami kaitan antara dirinya dan lingkungan sosialnya, belajar bergaul dan memahami aturan ataupun tata cara pergaulan. Dari interaksi terjadi komunikasi, dari komunikasi terjadi saling mengerti, saling memahami dan akhirnya ada perhatian dan kemudian saling melengkapi.
Dalam tinjauan psikologis akhirnya bermain berkaitan erat dengan perkembangan kognitif anak. Asah pemikiran, asih perasaan, bahkan asuh berbagai tindakan menjadi bagian penting dalam bermain.
Maka bermainlah selagi itu tidak membahayakan, bermainlah karena banyak kebaikan yang didapatkan, tetapi jangan sekali-kali bermain untuk hal yang tidak memiliki tujuan apalagi tanpa aturan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















