Pesan merupakan peristiwa temporal dari serangkaian peristiwa yang membentuk dimensi waktu diakronik, sementara tanda hanya berada dalam waktu sebagai suatu bentuk elemen yang serentak, yaitu sebagai suatu sistem yang sinkron. Suatu pesan bersifat intensional, maksudnya dibuat oleh seseorang. Tanda bersifat anonim dan tidak dimaksudkan oleh seseorang. Dalam makna ini tanda adalah sebuah ketidaksadaran, tidak dalam makna keinginan dan dorongan dibawah sadar, namun dalam makna struktur non libidal dan ketidaksadaran kultural. (Paul Ricoeur, 2014:17).
Titip salam ya. Ternyata salam pun bisa dititip dari seseorang kepada seseorang yang dituju lewat seseorang yang dipercaya.
Letaknya bukan sekadar kata “seseorang” tetapi pengirim yang merangkai pesan, orang yang membawa amanah pesan serta makna yang sampai kepada penerima pesan.
Titip salam yang bukan sekadar tanda kita ingat atau silaturahmi lebih dari itu ilmu komunikasi khususnya bahasa menjadikannya sebagai model interaksi antara individu pada satu peradaban tertentu.
Siapa saja di antara kita memiliki hak untuk menyampaikan sesuatu kepada orang lain, dengan cara apapun bahkan kapanpun. Yang paling utama dalam cerita ini adalah apa saja yang harus disampaikan, boleh perasaan, pikiran, gagasan atau pernyataan tentang sesuatu.
Simbolisasi dari apa yang akan disampaikan selalu tergantung saluran apa yang akan digunakan dan itu kadang tidak disadari tetapi kita sepakati.
Di sinilah masalahnya timbul, kadang kita mengorbankan rangkaian dari cerita pesan dikarenakan protokoler atau aturan dari jenis saluran yang kita gunakan.
Berbagai aplikasi muncul sebagai alternatif tetapi justru mereka lebih kepada persoalan penawaran yang memudahkan, menggiurkan menarik simpatik untuk dipilih. Iming-imingnya tidak kita sadari padahal ada maksud udang di balik peyek.
Kita harus menguatkan sekali lagi, bahwa pesan itu harus disiplin, ditaksonomi sesuai dengan isi pesan jangan sekali-kali terkaburkan oleh adanya pilihan teknologi penyaluran.
Sungguh kadang kita terperdaya oleh abad informasi yang menjadikan telekomunikasi menjadi benar-benar tele antara kita dengan pesan yang kita miliki sendiri. Kita dijauhkan oleh apa yang akan kita sampaikan, bahkan diatur oleh pemilik pesan, karena bahasa simbol kita kehilangan makna kultural.
Tulisan ini mungkin akan menjadi berbeda, ketika saya sebagai penulis mengetahui apakah yang saya maksudkan telah sama dengan yang diterima oleh pembaca.
Paling tidak mengintip di aplikasi siapa yang me-read itu sudah cukuplah sebagai awal penelusuran. Lebih jauh intensitas pembaca menjadi indikator bahwa pesan yang berkelanjutan memiliki tempat dalam komunikasi tentang sesuatu yang dibicarakan.
Akhir dari cerita pesan ini, ternyata kita masih mengakui bukan titip salam kepada orang yang jauh dari pandangan tidaklah efektif dalam komunikasi.
Tetapi yang dianjurkan, adalah bila ada kesempatan saling bersalaman dengan jabat tangan sentuhan itu adalah perwakilan dua hati yang saling berkepentingan untuk setuju ada nilai yang sedang kita komunikasikan.
Salam dengan ucapan itu anjuran agama, lengkapi dengan sentuhan itu akan memiliki arti berbeda dan lebih berkah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















