Alam Melayu telah menyaksikan kehadiran pelbagai pengaruh luar yang menyerap masuk ke dalam perkembangan institusinya termasuk kehadiran pengaruh pendidikan peradaban Islam dan ketamadunan Barat yang tercatat kemas di dalam sejarah. Oleh itu, bagaimana dinamika pengaruh pendidikan peradaban Islam dan ketamadunan Barat membawa perubahan kepada budaya masyarakat Melayu di Malaysia. Darinya diharapkan bahawa dalam menelusuri dinamika pendidikan Islam di Malaysia dari mulai pra merdeka sehingga pasca merdeka, konsep pendidikan Islam yang bersepadu dan seimbang perlu diamalkan demi kelestarian umat Islam khasnya di Malaysia dan amnya di dunia. (Maimun Aqsha, 2019).
Pendidikan adalah sesuatu yang dilakukan terus menerus, maka ia bersifat progresif, tidak statis, dimana setiap saat akan terus berubah sesuai dengan sifatnya karena dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja.
Lantas apanya yang berubah? Bagaimana sikap kita terhadap perubahan tersebut, apakah ada upaya mengendalikan perubahan?
Penelitian yang dilakukan oleh Profesor Maimun Aqsha bahwa untk melihat perubahan pendidikan dapat dipahami melalui kajian ini merangkumi tujuh aspek pendidikan peradaban dan ketamadunan yaitu (i) seni bina, (ii) perkahwinan, (iii) kesihatan, (iv) pakaian (v) hiburan (vi) budaya sastera dan (vii) kurikulum pendidikan.
Tampaknya tidak ada yang paling penting, semuanya sangat penting dan terkait dengan kehidupan sehari-hari kita. Jadi perubahan bisa dilihat bagaimana dalam seni membina generasi muda, begitu juga perubahan hasrat perkawinan di dunia zaman sekarang.
Sementara itu perubahan juga kita lihat dari perilaku generasi muda yang tidur sampai larut malam ini pasti terkait dengan nilai kesehatan, begitu juga dengan trend pakaian, dan hiburan yang menguras waktu serta perubahan jadwal istirahat. Sampai pada akhirnya perubahan pada budaya literasi atau sastra, dan ini terakumulasi menjadi perubahan kurikulum pada sistem pendidikan.
Ketika kita diajak memahami pendidikan sebagai sebuah perubahan yang nyata dan masif, maka tidak dapat disangkal lagi, semuanya saling terkait, saling mempengaruhi, tidak ada yang berdiri sendiri.
Kajian kualitatif yang dilakukan Prof Maimun ini mendapati bahwa wujudnya pelbagai dinamika pengaruh yang dibawa oleh pendidikan peradaban Islam sehingga mengubah dan menukar amalan masyarakat Melayu yang bertentangan dengan syariat Islam manakala pendidikan ketamadunan Barat pula membawa dua sisi pengaruh yaitu nilai yang positif ataupun negatif.
Dunia terus berputar, kebudayaan terus berkembang, peradaban terus terukir oleh manusia, dan pendidikan pun terus beradaptasi dengan segala macam kondisi.
Tiga hal penting yang disampaikan oleh Prof Maimun bahwa;
Pertama; pengekalan pengaruh kedua-dua peradaban dan ketamadunan ini dalam masyarakat budaya Melayu di Malaysia haruslah selari dengan kehendak syariat. Dalam usaha mengekalkan kedua-dua peradaban dan ketamadunan ini secara bersepadu dalam kurikulum dan pendidikan dapat dikenalpasti dalam aplikasi pendidikannya, khasnya di peringkat institusi pengajian tinggi, antara lain yang sedang dilaksanakan dalam konsep kesepaduan kurikulum Aql dan Naql.
Kedua, konsep pendidikan bersepadu dalam strategi pengajaran dan pembelajaran berteraskan empat elemen iaitu (i) kreativiti (creativity), (ii) refleksi (reflectivity), (iii) bekerjasama (reciprocity) dan (iv) bertanggungjawab (responsibility). Ini adalah pertimbangan penting terkait dengan dinamika perkembangan mata pelajaran pendidikan Islam di Malaysia dan dinamika pendidikan Islam berhadapan revolusi industri 4.0.
Ketiga, implikasi kajian ini diharapkan bahwa dalam menelusuri dinamika pendidikan Islam di Malaysia dari mulai pra merdeka sehingga pasca merdeka, konsep pendidikan Islam yang bersepadu dan seimbang perlu diamalkan demi kelestarian umat Islam khasnya di Malaysia dan amnya di dunia.
Jelas sekali ternyata pendidikan yang progresif, terus diterpa oleh berbagai masalah, tantangan boleh saja datang dari luar, tetapi kompleksitas justru ada pada sistem pendidikan kita dalam menghadapinya.
Apapun yang ada di hadapan kita, pendidikan itu tetap penting, masalah sebesar apapun yang menghalangi tujuan pendidikan tersebut, maka harapan adalah semangat. Untuk itulah bila kita masih sadar, maka kita dapat mengendalikan perubahan yang terjadi.
Pendidikan bukan hanya milik satu fakultas saja untuk mempelajarinya, tetapi kolaborasi pemikiran adalah hal utama untuk sebuah tindakan nyata demi rakyat dan bangsa kita.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















