Secara psikologis, individu butuh penghargaan dari orang lain, agar mendapat kepuasan dari apa yang telah dicapainya. Oleh karena itu individu bergabung dengan teman sebayanya yang mempunyai kebutuhan psikologis yang sama yaitu ingin dihargai. Sehingga individu, merasakan kebersamaan/ kekompakan dalam kelompok teman sebaya. (Slamet Santoso,1999:83).
Hidup sendiri itu menyenangkan, tetapi hidup bersama lebih membahagiakan, ternyata senang belum tentu bahagia, tetapi bahagia itu pasti sudah senang. Salah satu definisi bahagia adalah saat dimana orang yang kita sayangi melakukan hal-hal yang kita senangi, maka itulah kebahagiaan yang tiada tara.
Bayangkan hidup ini dikelilingi orang-orang yang kita senangi, bahkan kita cintai disaat itu mereka melakukan apa saja yang kita senangi, sungguh luar biasa kenikmatan hidup ini.
Menjalin hubungan dengan orang lain boleh jadi karena dasar fitrah antara orang tua dan anggota keluarga, boleh jadi juga karena pengalaman hidup yang sama seperti pertemanan baik satu sekolah maupun pekerjaan.
Dan akhir-akhir ini pertemanan kadang kala sampai pada tingkat yang lebih krusial, walaupun beda tempat, bahkan tidak pernah berjumpa di darat tetapi justru memiliki hubungan yang sangat emosional.
Mengamati tentang pertemanan ini, seorang penggiat psikologi sosial mencoba memberi catatan penting dalam empat hal utama yang pantas kita maknai yakni sebagai berikut:
Pertama; mengapa ada istilah kompak.
Hal ini pantas kita pertanyakan, mengapa pertemanan sampai pada tingkat kompak, indikatornya tampak bahwa mereka merasa satu tubuh, satu orang saja disakiti yang lain mencoba memberi bantuan. Hal ini akan lengkap lagi dimana kebahagiaan mereka tidak akan terjadi sampai semua anggotanya merasakan hal yang sama. Jadi kompak itu jelas dari hal yang menyakitkan sampai hal yang menyenangkan.
Kedua; individu itu pada dasarnya adalah makhluk sosial. Bila ditelusuri lebih awal lagi, memang harus disadari bahwa individu itu adalah makhluk sosial, secara naluriah dia ingin berteman dengan orang lain. Kita harus melihat individu menginginkan orang lebih tua untuk mencari contoh tauladan, orang yang sebaya untuk menjadi rekan diskusi tentang kehidupan, dan kepada yang lebih mudah untuk dijadikan kelengkapan berbagi kesenangan.
Ketiga; kemauan untuk berkelompok.
Memiliki teman itu biasa, menjadi persahabatan itu langkah berikutnya, tetapi ketika menyatu dalam satu komunitas di sana ada risiko yakni disenangi semua orang, atau justru tidak diterima sebagian anggotanya. Individu yang telah melampaui berbagai hal terkait dengan interaksi dalam komunitas ini adalah mereka yang siap hidup berkelompok, siap menjadi bagian dari apapun dari komunitasnya.
Keempat; individu ingin mendapatkan penghargaan dan akhirnya kepuasan.
Pada akhirnya ketika individu bersama dengan individu lain ada hal yang akan disampaikan yakni kita ini sama dalam hal tertentu tetapi kita sepakat ada yang berbeda pada hal lain. Perbedaan itu adalah masing-masing memiliki kelebihan yang harus diakui inilah prestasi dan kelompok harus memberi penghargaan. Sementara individu setelah menyampaikan kelemahannya kemudian mendapat bantuan, maka ia akan mendapatkan kepuasan telah diterima apa adanya oleh individu lain.
Ternyata benarlah bahwa hidup sendiri itu menyenangkan tetapi sesaat dan boleh jadi semu karena tanpa penghargaan apalagi penerimaan. Hidup bersama bukan justru berkurang tetapi bertambah nilai individu yakni kebahagiaan bersama-sama dengan orang lain.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















