Memosisikan filsafat Islam dalam system keilmuan dimulai klasifikasi terhadap agama Islam kepada tiga kelompok besar, yaitu Islam tekstual, Islam rasional, dan Islam empiris. Termasuk dalam kelompok pertama ialah Alquran dan Hadis; kelompok kedua, Ilmu kalam, filsafat Islam, fikh, Ushul fikh dan lain-lain; termasuk kelompok ketiga Sejarah dan Peradaban Islam. (Adenan, 2020:9).
Sebuah kajian yang tidak pernah habis untuk dibahas walaupun 24 jam waktu seharian disiapkan, tak cukup tulisan walaupun seluruh laut dijadikan tinta, dan lebar tempat walaupun seluruh daun di dunia ini untuk jadi artefak.
Itulah kajian terhadap Islam, dari satu sisi, banyak sisi sampai kita akui ternyata Islam memang tak punya sisi dari manapun kita akan mengkaji. Semakin kita bahas semakin kita mengetahui bahwa posisi kita adalah tidak ada apa-apanya dari keseluruhan yang mungkin ada.
Sungguh Islam tidak memberikan pembatasan bagi siapa saja yang ingin membahasnya, menarik satu titik benang untuk mengukurnya, jadi sekecil apapun yang kita torehkan termasuk menuliskan kata Islam adalah kebaikan.
Dari sejarah masa lampau, dialog hari ini, sampai optimisme masa depan semuanya memberikan catatan bahwa Islam itu memberi ruang bagi kita untuk terus dikaji.
Dalam konteks dialog inilah selalu hadir filsafat Islam yang sangat progresif bahkan menjadi solusi bagi sebuah peradaban. Namun kita harus ingat niatkanlah kajian itu untuk mencari keberkahan dalam ilmu pengetahuan.
Dr Adnan memberikan catatan kepada kita bahwa; kritik terhadap filsafat Islam dalam pembahasan ini dikonsentrasikan pada dua aspek, yaitu akal dan realitas.
Alasannya, kritik ini masih di dalam konteks untuk mendiskusikan filsafat Islam yang merupakan produk akal. Demikian halnya dengan realitas, yang merupakan obyek yang akan disimpulkan oleh akal, juga merupakan sesuatu yang akan menentukan pikiran.
Dari analisis kritis terhadap akal dan realitas tersebut, pemikiran filsafat Islam dapat dideskripsikan rumusan bentuk dan sifatnya. Inilah produk dari ruang dialog yang diberikan oleh Islam terhadap siapa saja yang akan memberi persepsi sampai apresiasi.
Lebih lanjut Dr Adnan mencoba memberi pemetaan bahwa filsafat Islam dapat diketahui melalui lima ciri sebagai berikut:
Pertama; dilihat dari segi sifat dan coraknya, filsafat Islam berdasarkan pada ajaran Islam yang bersumber pada Alquran dan Hadits. Dengan sifat dan coraknya yang demikian itu, filsafat Islam berbeda dengan filsafat Yunani dan filsafat Barat yang pada umumnya semata-mata menggunakan akal (rasio).
Kedua; dilihat dari segi ruang lingkup pembahasannya, filsafat Islam mencakup pembahasan bidang fisika (alam raya), yang selanjutnya disebut bidang kosmologi; tentang ketuhanan dan hal-hal lain yang bersifat non materi, yang selanjutnya disebut bidang metafisika; masalah kehidupan di dunia, kehidupan di akhirat, masalah ilmu pengetahuan, kebudayaan dan lain sebagainya, kecuali masalah zat Tuhan.
Ketiga; dilihat dari segi datangnya, filsafat Islam sejalan dengan perkembangan Islam itu sendiri, tepatnya ketika bagian dari ajaran Islam memerlukan penjelasan secara rasional secara rasional dan filosof.
Keempat; dilihat dari segi yang mengembangkannya, filsafat Islam dalam arti materi pemikiran filsafatnya, bukan kajian sejarahnya, disajikan oleh orang-orang yang beragama Islam (para filosof muslim).
Kelima; dilihat dari segi kedudukannya filsafat Islam meliputi ilmu ilmu keislaman seperti ushul fiqh, ilmu kalam, tasawuf, dan ilmu pengetahuan lainnya yang dihasilkan oleh ahli piker Islam. Secara etimologis, kata filsafat Islam terdiri dari dua kata, yaitu filsafat dan Islam.
Hari ini kita baru sadar ternyata salah satu sisi Islam itu adalah filsafat, dan dari filsafat inilah kita dapat memaknai sejarah sebagai sebuah kekayaan masa lalu. Dari filsafat Islam kita diberi ruang untuk diskusi yang terus menggelorakan ilmu pengetahuan.
Dan akhirnya dari filsafat Islam jugalah kita menggantungkan harapan bahwa masa depan itu dapat kita perhitungkan. Islam itu bukan rutinitas semata, tetapi ruang diskusi untuk saling berbagi pengalaman mengisi 24 jam waktu agar tidak sia-sia.
Tidak perlu ke laut mencari tinta menuliskannya, apalagi memborong kertas untuk mewariskan, yang pasti tulislah di mana saja itu akan menjadi bagian dari kekayaan peradaban Islam.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















