Pola pembinaan karakter yang baik dan benar akan dapat mengantarkan anak-anak mengikuti pendidikan dengan baik dan benar pula. Orangtua harus benar-benar memperhatikan pendidikan anak-anak di lingkungan keluarga dan mencarikan sekolah dengan jaminan pendidikan yang baik. Dengan pendidikan yang baik di lingkungan keluarga dan sekolah, pengaruh negatif yang mungkin timbul dari lingkungan masyarakat dapat dikendalikan dan tidak banyak berpengaruh terhadap sikap dan perilaku (karakter) anak-anak. Begitu juga pendidikan karakter yang baik di sekolah dan keluarga dapat mengurangi kemungkinan pengaruh negatif yang ditimbulkan oleh media, terutama media elektronik. (Marzuki, 2015:159).
Jangan sekali-kali bermimpi anak seperti kita waktu anak zaman dahulu, anak adalah anak, mereka memiliki dunianya sendiri, mimpi mereka jauh berbeda dengan mimpi kita para orang tua.
Boleh jadi kita berpikir mimpi kita tentang anak berbeda dengan mimpi anak tentang masa depan, dan bukan tidak jarang justru bertentangan, bahkan lebih banyak mimpi mereka berjalan sendiri sementara kita orang tua terus mimpi mengiringi mereka. Hasilnya tidak ada yang tahu, karena memang mimpi itu masih menjadi misteri.
Sebagian yang dilakukan oleh keturunan kita, ketika masih menjadi bayi boleh jadi total adalah kendali para orang tua, sementara mereka mulai beranjak jadi anak-anak mulailah kita memberi pertimbangan tentang dunia mereka.
Namun sampai menjelang anak justru kita harus banyak belajar tentang dunia mereka, dan akhirnya ketika remaja sungguh mereka memiliki dunia yang jauh berbeda. Apa yang dapat kita lakukan sementara kita masih pingin punya mimpi tentang mereka?
Marzuki sebagai penulis buku tentang Pendidikan Karater Islam mencoba melihat dari sisi yang berbeda, bahkan pendidikan karakter masih dianggap menjadi bagian penting tentang harapan kita pada anak di masa depan.
Menurut beliau ada tiga hal penting yang harus benar-benar diperhatikan terkait anak dan pendidikan karakter di masa depan yakni sebagai berikut:
Pertama, para orangtua dan guru harus siap menjadi teladan bagi anak-anak dan para peserta didik di lingkungan keluarga dan sekolah. Di samping itu, mereka harus mampu berperan sebagai edukator, fasilitator, motivator, dan evaluator, demi pengembangan karakter anak-anak. Sebagian orang tua memiliki peran yang sama dengan guru, namun pada hal tertentu mereka sepakat untuk saling berbagi khususnya tentang pengetahuan dan pengalaman. Dalam hal pendidikan karakter ada hal yang tidak dapat dipisahkan bahwa kedua pihak ini sepakat keteladanan mereka adalah kata kunci bagi anak.
Kedua, mereka harus terus mengawasi sepak terjang anak-anak, baik secara langsung maupun tidak langsung, agar setiap hari dapat dipastikan bahwa sikap dan perilaku anak-anak memang benar-benar berada di jalur yang benar. Dari sejak bangun tidur, berangkat ke sekolah, bermain di tengah-tengah masyarakat, kemudian beribadah, dan pulang kembali ke rumah 24 jam harus terpantau, terdeteksi apapun yang dilakukan anak. Memang sungguh sulit menjadi orang tua fulltime bagi mereka, tetapi ini adalah jalan paling utama untuk mimpi bersama tentang anak di masa depan.
Ketiga, agama yang benar dan kuat dapat menyertai perjalanan anak-anak dalam membangun dan mengembangkan kecerdasan dan kreativitas mereka dalam berbagai bidang keilmuan yang mereka tekuni. Disaat inilah orang tua harus menyadari bahwa tidak selamanya mereka harus menjadi teladan di depan, tetapi juga ing madyo mangun karso, dan ada saatnya harus tutwuri handayani. Agama memberikan pedoman dan tuntunan, tetapi bukan hanya untuk dilakukan oleh orang tua, lebih dari itu juga harus dilaksanakan oleh anak baik di lingkungan keluarga, masyarakat maupun di tempat seperti sekolah maupun rumah ibadah.
Akhirnya mimpi tentang anak boleh saja, tetapi strategi mewujudkan itu lebih utama untuk dilakukan, diantaranya selalulah bersama anak, baik makan di pagi hari, atau, bermain di sore hari dan yang penting istirahat di malam hari.
Mimpilah bersama mereka lewat dialog, lewat canda untuk saling berbagi bahwa masa depan itu adalah kebaikan bersama, disepakati bersama, ternyata pendidikan karakter itu sederhana yakni dimulai dari dialog antara kita yakni anak dan orang tua.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















