Mungkin saja permainan telah mengisi malam-malam dingin di gua para nenek moyang purba kita, dan bukankah terbersit unsur permainan dari adat istiadat leluhur kita? Namun berbeda dengan salah satu versi manusia canggih kita. Permainan lebih tua dari kebudayaan, bahkan daripada manusia itu sendiri, ia ada di dalam alam, ia hidup bersama alam, ia bahkan mengatur setiap gerak-gerik alam. (Pardamean Panjaitan, 2015:iii).
Pada zaman dahulu sebagian anak-anak selalu bermain di luar rumah, halaman sekolah, sore bahkan malam hari semua dilakukan dengan senang hati dan tidak ada terdengar orang tua melarangnya.
Hari ini kita tidak lagi banyak mendapati anak-anak bermain di lapangan halaman rumah, sebagian mereka mungkin bermain di dalam rumah bahkan di dalam kamar. Kita sendiri tidak tahu bagaimana pola permainan di masa mendatang, apakah masing ada di halaman, di taman, atau di tempat khusus permainan, atau mungkin hanya di kamar rumah kita, boleh jadi kita bertanya apakah masih ada anak-anak bermain?
Bermain ternyata mengalami evolusi, apakah karena perubahan waktu yang dibutuhkan, lokasi yang berupa fungsi, atau juga akibat tawaran teknologi.
Evolusi permainan sebagai bagian dari bermainnya anak-anak tentu tidak sekedar catatan, pengalaman atau hal baru yang ditawarkan. Faktor ekonomi, sosiologi, bahkan psikologi, terlebih teknologi suatu masyarakat dan bangsa menjadi bagian dari evolusi bahkan revolusi.
Evolusi bermain pada anak menurut pangamatan kita dapat dilihat dari empat hal utama yakni sebagai berikut:
1.Bermain bersama alam. Alam adalah anugerah Tuhan, terbentang menjadi hutan, daratan, pantai, lautan, dan juga taman. Anak-anak yang bermain bersama alam seperti petak umpet dibalik tembok, gantungan ditali pohon kayu, bahkan mencari teman dibalik gua itu mungkin sejarah, tetapi sebagian masih tetap melestarikannya. Catatan kita anak-anak tidak ada yang merusak alam, tetapi mereka justru bersahabat dan mengetahui saat kapan musim bermain dan saat kapan harus berhenti.
2.Bermain bersama alat atau instrumen. Bayangkan ketika musim panen padi tiba, dari batang “damen” dapat dijadikan alat musik yang merdu. Bambu bukan sekedar kentongan tetapi jadi angklung sederhana bisa untuk menghiasi permainan menembus waktu baik siang maupun malam. Panen padi tidak terganggu, hutan bambu tetap lestari, bermain tetap dirindukan dikala musim tiba di kampung halaman.
3.Bermain bersama teman. Bermain itu selalu besama orang lain, boleh jadi berdua untuk saling berlaga, atau berempat untuk berpasangan mendapatkan pemenang, dan beramai untuk dapat satu juara. Satu hari menang satu hari kalah, esok hari tidak ada yang bermasalah, emosi selalu terjaga, terasah bahkan terkendali, karena hukum bermain tidak ada yang menjadi fatwa. Selesai bermain selesai semua tetapi gembira masih terbawa sampai bermain berikutnya.
4.Bermain untuk diri sendiri. Apakah ada waktu keluar rumah untuk bermain, atau tidak ada biaya untuk membeli alat permainan, dan mungkin sebagian teman sedang ada kesibukan? Semua dapat dijawab oleh anak-anak dengan bermain sendiri dengan raga di manapun, kapanpun tanpa tergantung siapapun.
Bermain itu sesungguhnya adalah kebutuhan bukan keadaan, karena dengan bermain anak-anak akan terlatih secara fisik tanpa tekanan, terbiasa bersama tanpa kebencian.
Bermainlah selagi itu tidak membahayakan, manfaatkanlah alam karena memang itu bagian dari anugerah, buatlah alat karena kreativitas itu milik siapa saja, dan nikmatilah karena waktu bermain saatnya akan berakhir.
Buktinya orang tua tidak akan bosan ketika menceritakan bagaimana ia bermain ketika dahulu menjadi anak-anak, bukan hanya menjadi pemenang tetapi seru dalam pengalaman.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















