Semua masyarakat menciptakan mitos mengenai sistem keluarga mereka yang sekarang maupun yang lampau. Jika kita teliti data maka “pemberontakan kaum akil baligh” ternyata hanya merupakan suatu serangkaian yang sangat sederhana terhadap nilai-nilai orang dewasa. (William J Goode,1985:234).
Anak-anak bukan orang tua yang berukuran kecil. Itulah sematan yang diberikan oleh para ahli psikologi terhadap anak-anak, tentu ahli psikologi tersebut adalah orang dewasa, dan dia pernah menjadi anak-anak.
Memang orang dewasa pantas menceritakan tentang anak-anak, karena ia pernah mengalaminya, tetapi di sisi lain ada anak-anak menceritakan orang dewasa mungkin satu saat nanti ia akan menjadi atau mengalaminya.
Menceritakan tentang anak-anak dikalangan orang dewasa selalu disandarkan pada pengetahuan berdasarkan pengalaman, apakah itu ketika di lingkungan keluarga, di sekolah atu di masyarakat. Sangat seru, bahkan seakan orang dewasa mengetahui persis apa yang dialami, alasan yang selalu menjadi sandaran dalam berpendapat adalah pernah mengalaminya.
Di sini kita harus sadar bahwa pengalaman masa lalau ketika menjadi anak-anak belum tentu sama dengan apa yang dialami anak-anak hari ini. Memaksakan pendapat berdasarkan pengalaman itu adalah penting, tetapi mempertimbangkan apa yang sedang dialami anak-anak hari ini itu lebih bijaksana.
Membahas bagaimana rencana masa depan ketika menjadi orang dewasa itu biasa, buktinya pergi ke sekolah, belajar keterampilan, mencoba investasi semuanya adalah untuk persiapan ketika menjadi orang dewasa. Apakah orang dewasa hari ini dapat dijadikan contoh atau diteladani menjadi pertimbangan bagi anak-anak, jawabannya tidak selamanya benar.
Anak-anak kadang memiliki cara pandang yang berbeda, salah satu alasannya karena bermacam contoh yang ada di depan mata, beragam pilihan yang ditawarkan memberi kemudahan untuk memilih.
Kita masih percaya lingkungan anak-anak memiliki peran besar terhadap kemampuan memilih, mempertimbangkan dan menetapkan apa yang akan dilakukan.
Apa yang dialami dan dilakukan orang dewasa masa lampau adalah pembelajaran yang bermakna, tetapi ingat itu bukan mitos yang tidak dapat dirubah.
Apa yang diharapkan orang dewasa terhadap anak-anak bukan harga mati yang harus menjadi satu-satunya pilihan, tetapi berilah pertimbangan dan yang utama cara membuat keputusan.
Orang dewasa dan anak-anak satu sisi sama memiliki kemauan dan kemampuan mengeksploitasi diri dan bereksistensi tanpa harus saling mencurigai.
Akhirnya orang dewasa bukan anak-anak berukuran lebih besar tetapi yang benar adalah anak-anak adalah anak-anak dan orang dewasa adalah orang dewasa. Keduanya bisa hidup sendiri, tetapi akan lebih berkah bila saling berbagi apalagi saling menghormati dan menyayangi.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















